Tantangan Penulis dan Penerbit Era New Normal


Judul.              : Tantangan Penulis dan Penerbit Era New Normal
Resume Ke      : 10
Gelombang      : 20
Tanggal            : 02 Agustus 2021
Tema                : Pemasaran Buku
Narasumber    : Bpk. Agus Subardana

 Ψ§Ω„Ψ³Ω„Ψ§Ω… ΨΉΩ„ΩŠΩƒΩ… و Ψ±Ψ­Ω…Ψ© Ψ§Ω„Ω„Ω‡ و Ψ¨Ψ±ΩƒΨ©
Hi, Readers.

Pandemi Covid-19 di negara ini, memaksa kita untuk harus berinovasi. Tak hanya dalam dunia pendidikan, yang harus mengalami perubahan dalam pembelajaran. tetapi juga dari semua aspek kehidupan yang harus mengalami perubahan dimasa new normal. 

Termasuk dalam dunia literasi, Era digital telah menggeser kebiasaan membaca seseorang, jika sebelumya masyarakat secara umum, mencari informasi melalui majalah dan koran, kini telah berganti menggunakan media internet. Kegiatan membaca buku pun sudah berubah, yang sebelumnya menggunakan printed book kini berganti e-book. 

Hal ini, menjadi tantangan terbesar bagi penulis dan penerbit, untuk menerbitkan dan memasarkan buku di era new normal.

Tak terasa hari begitu cepat berlalu, masih teringat betul awal kali belajar menulis, hari ini sudah menginjak pertemuan ke-10 belajar menulis. Semoga kita semua masih konsisten untuk belajar menulis.

Sebelum kita melanjutkan materi kali ini, berikut profil narasumber:

Direktur Marketing PT. Andi Offset Yogyakarta (Penerbit Mayor)


Esensi Buku untuk Pembaca

Esensi sebuah buku pada dasarnya adalah sebagai informasi untuk pembaca. Di dalam buku terdapat informasi dan bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi seseorang. 

Sejak dini kita selalu dibimbing untuk gemar membaca buku, karena banyaknya manfaat yang dapat kita peroleh dari membaca buku. Pemerintah juga ikut andil dalam gerakan budaya membaca buku, dengan menyediakan perpustakaan keliling dan fasilitas yang lain untuk menunjang gerakan aktif membaca.

Selama manusia masih membutuhkan informasi dari buku, baik buku cetak maupun elektronik, perusahaan penerbitan cukup menjanjikan untuk ditekuni. meskipun terdapat perubahan media, yang dulunya menggunakan kertas kini menjadi bentuk digital, esensi buku sebagai informasi tidak akan hilang. Bahkan, dalam dewasa ini, kegunaan e-book difungsikan untuk mendokumentasikan buku-buku yang sudah tidak beredar kembali.


Membaca Buku adalah Budaya

Tentunya jika membahas soal buku, pasti di benak kita yang terbayang adalah kertas yang berlembar-lembar dan tercetak rapi dan bisa dipegang, bukan?

Nah, hal ini yang menjadikan buku cetak masih banyak digemari oleh pembaca, seperti halnya sebagai bukti, seseorang yang gemar membaca pasti memiliki banyak buku bacaan di rumahnya. Mindset tersebut yang sudah mengakar turun temurun dan masih berkembang hingga sekarang.

Akan tetapi, tak dipungkiri karena keadaan demikian banyak sekali penerbit yang mengeluhkan tentang permasalahan yang dihadapi dan terangkum sebagai berikut :



Dari rangkuman di atas, dapat disimpulkan permasalahan yang dihadapi penerbit dan juga bisa berimbas ke penulis tentunya, masalah terbesar yang dihadapi saat ini adalah bagaimana memasarkan buku di masa pandemi saat ini?


Tantangan Penulis dan Penerbit Era New Normal

Secara prinsip kerja, entah menggunakan printed book atau e-book dalam penggarapan sebuah naskah hingga proses penerbitan adalah sama bagi penulis dan penerbit. Baik proses perumusan kosep untuk menggali kebutuhan pembaca saat ini, penggarapan naskah bersama penulis, proses editing di redaksi dengan standartnya, pembuatan cover yang menarik minat baca, pengajuan ISBN dll, pada dasarnya sama.

Untuk pemasaran e-book saat ini memang lebih mudah dari buku cetak, terbukti dari hasil survey berikut 
Kita bisa menyimpulkan dari grafik tersebut, penjualan buku cetak di era new normal ini mengalami penurunan. Hal ini, juga berdampak pada toko buku konvensional, karena saat ini pembaca lebih beralih via toko buku online yang sudah menjamur. 

Dari fenomena ini, penerbit harus berinovasi dengan perubahan yang terjadi, seperti halnya berikut :


Penerbit harus bisa menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi era digital yang tidak dapat dicegah,
apalagi dalam konteks pemasaran buku.


Kiat Pemasaran Buku Era Pandemi

Pemasaran buku menjadi permasalahan yang besar bagi penerbit maupun penulis, akan tetapi dalam materi kali ini, narasumber dengan besar hati memberikan tips untuk memasarkan buku di tengah sulitnya ekonomi akibat pandemi covid-19. Untuk penjelasannya sebagai berikut :


Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa beradaptasi dengan dunia digital sangatlah diperlukan, kita tidak boleh serta merta menjauhi perubahan yang terjadi, tapi kita harus masuk ke dalam perubahan tersebut supaya kita mampu menghadapi apa yang terjadi saat ini.

Begitu pula untuk kita sebagai penulis pemula, haruslah tahu apa yang di hadapi saat ini dan bagaimana solusi yang pas untuk diterapkan.


Strategi Pemasaran PT. Andi Offset Yogyakarta

Menurut narasumber yang notabennya adalah Direktur Marketing PT. Andi Offset Yogyakarta. Beliau menyampaikan dalam materi kali ini bahwa dalam penjualan buku dikelompokkan menjadi beberapa kategori (buku anak, buku fiksi, buku mapel, dll) untuk mempermudah pemetaaan berdasarkan kategori jenis buku yang diterbitkan.

Strategi yang digunakan adalah pemasaran lewat udara (online) dan juga pemasaran lewat darat (offline).

Penjualan melalui online dilakukan melalui promosi di media sosial (website, instagram dll) untuk pendistribusian buku juga dilakukan secara online dengan whatsaap dan marketplace.

Meskipun demikian, menurut narasumber dengan pemasaran melalui online, ada pula tantangan yang dihadapi seperti, harus pro-aktif berpromosi di media sosial, harus bisa menjaring pelanggan baru dengan tetap mengakuisisi pelanggan lama, serta menjaga kestabilan penjualan yang mengalami penurunan, meningkatkan prifit penjualan melalui online. 

Karena maraknya penjualan buku melalui media online, harus mengerti dan mengamati daya saing produk kita, dengan menonjolkan kelebihan buku yang dimiliki, dan juga tantangan terbesar adalah membuat citra produk yang baik supaya konsisten diminati.

Baik pemasaran lewat online dan offline, keduanya sangat berperan penting dalam proses penjualan buku dan tidak bisa dijalankan hanya satu saja. terbukti tak hanya melakukan penjualan lewat online, Penerbit Andi telah mempunyai 87 cabang di kota dari Aceh s.d Papua, dengan menempatkan tenaga pemasaran di tiap kantor cabang tersebut.

Menurut beliau, di era pandemi saat ini buku mapel paling banyak digemari, sedangkan untuk buku karya sastra masuk dalam kategori referensi. untuk lebih jelasnya mari kita lihat tabel berikut :


Diambil dari tren penjualan toko buku Gramedia

Semoga sedikit pengetahuan dari tulisan ini, membuat kita semangat dalam menulis. 

"Meskipun menjadi penulis tidaklah mudah, tidak tahu siapa yang akan baca, tapi semangat menulis tetap selalu ada, mari abadikan karya kita dengan menulisnya, tak tahu apa yang kan terjadi esok hari, karya kita akan abadi. salam literasi," ~Afifah

About Nur Afifah

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

16 comments :

  1. Mantap, keren bun πŸ‘πŸ‘πŸ€©

    BalasHapus
  2. Keren mb, resume dg tampilan rapi apik

    BalasHapus
  3. Suka nih dengan resume ini. Mantap dalam pengantar dan tertata apik dalam penyajian.πŸ‘

    BalasHapus
  4. Kerennn...padu padan dengan kondisi terkini.
    Perlu dicontoh

    BalasHapus
  5. Wah... suka sama pembagian poin2nya. sangat menginspirasi. keren bu..

    BalasHapus
  6. keren bingitts mbaksay,mantul..rapiπŸ‘

    BalasHapus
  7. Terimakasih Bu Nur, sudah mampir πŸ˜ŠπŸ™

    BalasHapus
  8. Penulis pemula hrs tau solusi yg pas untk diterapkn, poin penting buat saya bun ... trimakasih πŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama Bu Chank, terimakasih sudah mampir

      Hapus
  9. Abadikan semua cerita hidup dengan tulisan. Mantap bu

    BalasHapus

Entri yang Diunggulkan

Circle Positif, Apa ciri - cirinya?